Komputer Dan Masyarakat oleh Ade Norman

Ade Norman 535030191

Mengapa Memilih TI

Perkenalkan nama saya Ade Norman, sekarang saya mahasiswa Teknik Informatika Universitas Tarumanagara angkatan 2003. Berikut ini adalah latar belakang saya. Saya adalah anak ke- 4 dari 4 bersaudara yang terdiri dari 2 anak perempuan dan 2 anak laki – laki. Saya lahir di Jakarta pada tanggal 14 Maret 1984. Ayah saya sudah meninggal pada tahun 2000, papa saya meninggal mendadak karena serangan jantung koroner, walaupun sebelumnya sudah pernah melakukan operasi jantung di Singapura pada tahun 1996. papa saya meninggal pada saat bermain tennis, kejadian ini sangat memukul saya pada saat itu, dan saya juga sangat merasa kasihan sekali dengan mama saya. pada saat ini saya dirumah hanya tinggal bersama dengan mama saya, karena kakak saya ketiga – tiganya sudah menikah dan sudah tinggal dirumahnya masing – masing. Latar belakang pendidikan saya waktu TK di sekolah Notre Dame, SD di Notre Dame, SMP di Notre Dame. Selama TK, SD, SMP saya bersekolah di Notre Dame karena letak sekolahan yang dekat dengan rumah saya sehingga saya tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk tiba disekolah, dan karena kepala sekolah yang sudah kenal akrab dengan orang tua saya. Sewaktu sekolah disana saya mendapat pendidikan yang sangat baik, guru – guru dan kepala sekolah yang baik dan mereka mengajar dengan baik dan jelas. Pada saat SMP saya mulai mendapatkan pelajaran yang baru dan cukup berat, yaitu mata pelajaran fisika, menurut saya pelajaran tersebut cukup sulit, namun mau tidak mau, saya harus bisa. Karena merasa cukup berat untuk bisa mengerti sendiri, maka saya bersama dengan teman – teman saya berusaha untuk mencari guru les privat, dan ternyata berhasil, dalam pelajaran disekolah, saya tidak mengalami banyak hambatan dan masalah. Sehingga nilai – nilai saya sewaktu SMP tergolong cukup baik. Sewaktu SMP, kegiatan saya sudah sangat padat, sepertinya hampir setiap hari saya pergi untuk kursus bahasa Inggris dan les privat. Tapi sampai sekarang saya belum bisa lancar berbahasa Inggris. Saya cuma asal bisa mengerti intinya saja. Padahal saya sudah tahu bahwa bahasa Inggris itu sangat penting untuk masa depan saya. Oleh sebab itu, sampai sekarang saya masih tetap berusaha untuk belajar Bahasa Inggris. Di sekolah SMP Notre Dame, saya sudah mulai mendapatkan pelajaran komputer, walaupun pada saat itu komputer dirumah saya masih tidak secanggih komputer disekolahan, tapi saya tetap bisa mengikuti kegiatan pelajaran komputer disekolah dengan baik. Mulai dari saat itu, pelajaran komputer sangat saya sukai, karena sangat menarik dan sangat berguna. Karena kejadian tersebut saya berusaha untuk membujuk orang tua saya untuk mengganti komputer dirumah saya, dan akhirnya komputer saya diganti dengan yang terbaru, sampai akhirnya saya lulus dari SMP barulah komputer itu diganti lagi dengan yang lebih baru lagi. Mulai saat itu hingga sekarang, saya sangat menggemari berbagai perlengkapan dan game – game komputer. Sehingga timbul dipikiran saya bagaimana caranya untuk membuat sebuah game, tapi itu hanya sepintas saja, karena saya tahu, saya tidak akan mampu. Sampai sekarang saya juga masih suka melihat dan membeli perlengkapan komputer selama harganya masih terjangkau, karena jaman sekarang semua harganya mahal – mahal. Dan jaman sekarang harga tidak bisa bohong, barang dengan harga yang murah, kebanyakan kualitasnya juga rendah. Selanjutnya mendekati kelulusan SMP saya bingung akan bersekolah dimana, karena jika sekolah di Notre Dame lagi, saya merasa jenuh dan sudah bosan dengan suasana yang seperti itu terus, saya tertarik untuk pindah sekolah, dan karena kebanyakan teman – teman akrab saya yang lain juga kebanyakan akan pindah sekolah. Dengan ditambah alasan seperti itu, maka saya tambah berminat untuk segera pindah sekolah, setelah lulus SMP. Maka saya segera berkonsultasi dengan keluarga dan teman – teman saya, pertama saya mulai dengan mencoba mengikuti ujian saringan masuk di sekolah Abdi Siswa yang di tanjung duren ketika menghadapi ujian tiba – tiba saja ada peserta tes yang duduk disebelah saya jatuh pingsan. Bukan main kagetnya saya melihat kejadian itu, segera saja suasana didalam kelas itu menjadi kacau seketika. Namun segera teratasi karena dengan segera peserta tersebut dibawa keruang UKS, ternyata setelah diperiksa, hanya karena dia belum sarapan pagi dank arena stress menghadapi soal tes yang cukup sulit. Setelah selesai tes, saya merasa lega karena sepertinya saya lumayan bisa mengerjakan soal – soal yang diberikan, tapi saya belum yakin pasti diterima. Perasaan takut tidak diterima langsung saja menyelimuti perasaan say. Tapi saya segera mengalihkan pikiran saya ke hal – hal yang lain, waktu terus berlalu, hingga tiba saatnya pengumuman hasil tes tiba, segera saya kesana dengan orang tua saya, ketika tiba disana sekolah tersebut sudah sangat ramai, dengan segera saya menuju papan pengumuman hasil peserta tes. Ketika saya baru hendak melihat, ternyata ada kabar yang sangat baik, teman saya ternyata sudah dating terlebih dahului dan dia segera memberitahu bahwa saya diterima, saya sangat senang namun saya masih tidak percaya. Lalu akhirnya saya melihat juga bahwa saya benar – benar diterima. Tapi saying sekali ada 2 orang teman sekolah saya yang tidak diterima. Akhirnya kami segera menuju ke ruang administrasi untuk melihat biaya – biayanya. Dan ternyata biaya sekolah di Abdi Siswa sangat mahal, banyak sekali teman – teman saya yang tidak jadi masuk kesana dan akhirnya saya juga tidak jadi untuk bersekolah disana. Tapi akhirnya saya jadi bingung sendiri, karena sudah bersusah payah untuk bisa diterima, tapi akhirntya dibatalkan. Lalu akhirnya saya bersama teman – teman saya mau mencoba mengikuti tes saringan masuk disekolah IPEKA, walaupun kami tahu bahwa biaya untuk bersekolah disana pastinya akan lebih mahal daripada disekolah Abdi Siswa, tapi kami iseng saja untuk mencoba, sebab katanya yang bersekolah disana banyak wanita cantiknya. Akhirnya kami kesana untuk membeli formulir pendaftaran, tapi ketika kesana ternyata sama saja dan biasa saja. Tapi kami langsung merubah ola piker kami, karena sepertinya memang lokasi disekolah tersebut sangatlah bagus, lengkap, dan tidak terlalu jauh dari rumah. Untuk menghadapi tes tersebut, kami mencoba untuk belajar bersama, tapi ternyata lebih banyak bermainnya dari pada belajarnya. Dan beberapa hari kemudian tibalah saatnya bagi kami untuk segera mengikuti tes penerimaan murid baru, setiba disana memang benar tempatnya sangat megah dan memang banyak sekali wanita cantiknya. Akhirnya kami segera masuk keruangan kami masing – masing untuk segera mengikuti tes, memang saya akui tes disekolah ini lebih mudah daripada tes di sekolah Abdi Siswa, baru kali ini saya merasa yakin pasti diterima, yang menjadi hambatan satu – satunya hanya untuk soal tes bahasa Inggrisnya, sepertinya saya banyak juga mengisi asal – asalan, karena untungnya soal untuk bahasa Inggrisnya pilihan berganda. Setelah selesai tes kami segera pulang kerumah kami masing – masing dank arena kebetulan rumah saya dan 2 orang teman saya satu kompleks, maka kami pulang beriringan. Sesampai dirumah, pada malamnya sambil makan malam saya segera berbincang dengan kedua orang tua saya dan saya langsung mengatakan sepertinya saya akan diterima di sekolah IPEKA. Orang tua saya hanya setuju – setuju saja, karena saya tidak membahas mengenai biaya sekolahnya. Sampai tiba akhirnya pengumuman penerimaan tes penerimaan murid baru di sekolah IPEKA, saya sengaja berangkat hanya dengan teman – teman saya saja, kami tidak mengajak orangtua, karena kami tahu, pada akhirnya mereka pasti tidak akan setuju kalau kami sekolah di sana. Setiba disana kami segera bergegas mencari papan pengumuman dan ternyata memang benar bahwa kami semua bersembilan di terima semuanya, tanpa tersisa satu pun. Lalu kami segera menuju keruang tata usaha disekolah tersebut untuk meminta perincian biaya kuliah yang harus kami tunjukan pada orang tua kami. Lalu dengan bangga kami semua kembali pulang, tapi sebelumnya kami merayakan dengan makan – makan karena kami semua bisa sukses diterima semuanya. Namun kami tahu bahwa tidak ada satu pun dari kami yang akan bersekolah disana. Karena biayanya yang hampir mencapai 10 juta hanya untuk uang pangkalnya saja. Kami semua hanya tertawa saja, karena kami sudah memperkirakan memang biayanya akan mendekati jumlah tersebut. Tapi kami tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi orang tua kami pada saat diberikan slip perincian biaya kuliah tersebut. Setelah makan – makan, maka kami semua bergegas untuk kembali kerumah kami masing – masing untuk menyerahkan slip perincian biaya kuliah tersebut. Setelah tiba dirumah, ternyata orang tua saya sedang tidak ada dirumah, karena papa saya mendadak ada urusan dengan saudara, jadi saya terpaksa harus menunggu mereka hingga malam. Namun pas sekali ketika saya dan kakak – kakak saya akan memulai makan malam, kedua orang tua saya pulang. Ketika kami sekeluarga telah selesai makan malam, saya segera membahas mengenai hasil tes penerimaan murid baru di IPEKA yang telah saya ikuti, dan ternyata saya diterima, papa saya menanyakan lokasi sekolahan tersebut, dan saya menjelaskan lokasi sekolah tersebut secara mendetail. Setelah itu saya segera memberikan slip perincian biaya uang pangkal dan segala keperluannya, tapi yang mengherankan ternyata orang tua saya sudah tahu dan tidak kaget lagi. Ternyata perkiraan saya salah, ternyata malah saya yang dibuat kaget. Orang tua saya menyetujuinya karena memang anak paman saya ada juga yang bersekolah disana dan dia sudah kelas 3 SMU, dan menurut informasi yang didapat oleh orang tua saya dari paman saya, katanya sekolah IPEKA memang bagus dan sudah mulai menerapkan metode pengajaran dari luar negeri. Tapi saya segera menjawab, mungkin benar, tapi saya mao menghubungi teman – teman saya dulu yang tadi juga diterima disekolah tersebut. Langsung saja saya menghubungi teman saya dan ternyata mereka semua bertujuh tidak disetujui untuk sekolah di IPEKA, karena biayanya yang sanagt mahal, seperti orang mao masuk universitas saja, ternyata hanya satu orang teman saya yang disetujui oleh orang tuanya.akhirnya saya segera membatalkan sekolah disana, dan saya juga menghubungi teman saya yang tadinya berniat bersekolah disana, dan dia pun juga membatalkannya. Lalu karena waktunya yang sudah semakin sempit, Karena sudah hampir dibuka tahun ajaran baru dan kami harus segera memutuskan apakah kami akan tetap sekolah di Notre Dame atau akan pindah kesekolah lain. lalu kami semua berpikir keras untuk mencari sekolah lain dengan biaya yang standard tapi memiliki kualitas yang baik. Setelah banyak berkonsultasi dari pihak orang tua dan dari pihak teman – teman saya, akhirnya para orangtua kamipun berkumpul dan berembuk untuk memasukan kami entah kemana. Akhirnya mereka telah sepakat untuk mendaftarkan kami ke sekolah Sang Timur, sesuai juga dengan pembicaraan saya dengan teman – teman saya, karena dijaman saya SMP, memang sekolah Sang Timur sudah cukup ternama. Keesokan harinya kami semua bersama dengan orang tua kami masing – masing segera menuju ke SMU Sang Timur di daerah kemanggisan, setelah sampai sana kami semua segera membeli formulir untuk ikut ujian saringan masuk siswa baru, kebetulan sekali tes tersebut adalah gelombang yang terakhir. Sepanjang jalan, saya dinasehati oleh mama saya, katanya kalo memang tidak mau sekolah lagi di Notre Dame, maka saya harus belajar semaksimal mungkin, agar saya dapat pasti diterima di Sang Timur, karena itu adalah tes gelombang yang terakhir. Selama beberapa hari menjelang tes, saya belajar dengan sungguh – sungguh, agar saya dapat mengikuti tes dengan baik, Selang beberapa hari tibalah saatnya untuk mengikuti tes ujian saringan masuk di SMU Sang Timur. Ketika tiba didepan sekolah, perasaan saya sungguh tidak enak, sangat ketakutan, beban mental yang sangat berat harus saya pikul, karena jika sampai tidak diterima ,aka saya benar – benar terpaksa untuk bersekolah lagi di Notre Dame, karena sudah tidak mungkin lagi untuk mengikuti tes disekolah favorit lain, karena SMU Sang Timur adalah tes gelombang paling terakhir diantara semua sekolah favorit. Dan tes yang akan saya hadapi adalah tes yang paling terakhir juga, jadi satu – satunya pilihan agar saya bisa pindah sekolah yaitu, saya harus bisa menyelesaikan soal – soal tes dan dapat menjawab pertanyaan dengan benar sebanyak – banyaknya. Lalu kami pun masuk ke ruangan tes, disini saya merasakan perasaan yang lebih menakutkan yaitu ketika soal – soal tes dibagikan. Sebelum mengerjakan tes saya berdoa dulu, karena saya benar – benar gugup sampai rasanya di pikiran saya tidak dapat mengingat apapun yang sudah saya hafal dan sudah saya pelajari, sepertinya semuanya lenyap. Setelah berdoa, langsung saja saya mulai mengerjakan soal secara perlahan namun pasti. Untungnya say adapt menyelesaikan semua soal dan sepertinya saya sudah banyak menjawab berbagai pertanyaan dengan benar. Setelah keluar dari ruangan tes, saya sudah melupakan semua perasaan dan hanya bisa pasrah. Lalu saya berkumpul bersama dengan teman – teman saya untuk membahas soal tes barusan. Dan ternyata banyak juga teman – teman saya yang kesulitan menyelesaikannya, terutama pada soal Fisikanya. Memang kami semua juga merasa tes yang paling sulit dari keseluruhan tes yang sudah kami hadapi adalah soal tes di SMU Sang Timur. Setelah makan siang di tempat jajanan depan kami semua kembali kerumah kami masing – masing sambil menunggu tibanya hari pengumuman hasil tes. Beberapa hari kemudian tibalah hari tersebut. Kami semua pergi kesana bersama – sama orang tua kami untuk melihat hasil tes. Setiba disana kami semua langsung segera menuju papan pengumuman. Sungguh ajaib, ternyata saya masih beruntung. Saya berhasil lulus dan saya diterima di SMU Sang Timur. Dan ternyata teman – teman saya semua juga lulus semua. Tanpa basa – basi, kami semua langsung segera menuju ruang tata usaha untuk menyelesaikan proses selanjutnya, mama saya segera mengambil slip pembayaran dan mengurus segala keperluannya. Setelah itu kami semua segera pulang kerumah kami masing – masing. Sampai dirumah ternyata papa saya masih belum pulang dan setelah malah akhirnya papa saya pulang. Saya bercerita panjang lebar dan dengan bangga saya mengucapkan bahwa saya diterima disekolah SMU Sang Timur, dan akhirnya niat saya untuk pindah sekolah tercapai juga.beberapa hari kemudian segera mama saya menyelesaikan biaya – biaya yang dibutuhkan. Setelah libur sekian lama akhirnya saya bersekolah juga disekolah yang baru. Tapi ternyata teman saya yang masuk Sang Timur Cuma 4 orang sedangkan yang 4 orang lagi ada yang pindah keluar kota dan ada juga yang tetap bersekolah di Notre Dame. Hari pertama saya masuk kesekolah sangat terasa asing dan janggal, tidak ada seorang pun yang sepertinya saya kenal. Diawali dengan MOS dan berbagai kegiatan lainnya yang membuat saya tidak merasa asing lagi di sekolah baru saya. Setelah berlalunya waktu akhirnya berbagai kegiatan MOS telah selesai dan kami sudah mulai belajar dikelas lagi seperti biasa, dan ternyata saya tidak mendapatkan kelas yang sama dengan ke 4 teman saya. Karena kelasnya dibagi menjadi 4 kelas, kami semua berada di 4 kelas yang berbeda. Dengan berlalunya waktu, akhirnya tiba juga dikelas 2 SMU, sisaat inilah saya mendapatkan benturan yang keras dalam hidup saya, yaitu pada saat liburan naik ke kelas 2 SMU, ayah saya meninggal saya akui, saya sempat stress berat, terutama mama saya, karena kejadian tersebut membuat saya jadi malas melakukan sesuatu, sehingga berakibat yang sangat fatal pada prestasi belajar saya, sehingga nilai – nilai saya jatuh pesat dan sampai akhirnya say gagal dan tidak dapat naik kekelas 3. Padahal menurut rencana, saya mau belajar dengan serius agar saya dapat mencapai kelas 3 IPA, sehingga saya dapat dengan mudah untuk menentukan jurusan selanjutnya di kursi mahasiswa. Tapi perjuangan tidak semudah itu, ada saja berbagai macam hambatan yang membuat saya malas, akhirnya saya gagal untuk naik kekelas 3, baik IPS sekalipun. Tapi walaupun begitu, saya tetap berusaha untuk bangkit lagi, karena saya menyadari, tidak mungkin selamanya saya harus begini, karena masa depan ada ditangan saya sendiri. Dengan kejadian tidak naik kelas itu, saya merasa disadarkan. Dan akhirnya saya mulai mencoba lagi untuk mengulang kelas 2 disekolah yang sama, walaupun ada banyak tawaran dari berbagai pihak keluarga dan saudara- saudara saya agar saya pindah sekolah, karena mereka menganggap kejadian itu wajar saja dan mereka merasa kasihan pada saya, bahkan dari antara mereka ada juga yang menawarkan agar saya menembak raport dan langsung naik ke kelas 3 SMU, tapi saya benar – benar menolaknya, jujur saja memang terasa malu sampai harus mengulang lagi dan harus belajar dengan adik kelas, tapi itu adalah pelajaran yang pantas agar saya sadar dan tidak malas lagi. Lalu saya mulai berusaha untuk bersemangat belajar lagi dan akhirnya saya berhasil naik kelas, walaupun ternyata saya gagal untuk naik kekelas 3 IPA, sehingga dengan sangat terpaksa saya naik ke kelas 3 IPS. Saya sungguh – sungguh merasa kecewa dengan apa yang saya dapat, tapi mau bagaimana lagi, memang itu yang pantas saya dapatkan. Dengan terpaksa saya menjalankan apa adanya sampai saya sudah dekat kelulusan, saya belum sempat berpikir akan mengambil jurusan apa di kursi perkuliahan nantinya. Saya hanya mendengar pendapat teman – teman saya yang sudah memuali untuk menentukan berbagai jurusan yang aakn diambilnya, ada yang berminat ke jursan akuntansi, ada yang berminat ke jurusan hukum, ada yang ke manajemen, manajemen bisnis, psikologi, dan lain sebagainya, membuat saya menjadi tambah bingung, yang pasti saya tidak akan mengambil jurusan hokum, karena saya tidak terlalu kuat untuk menghafal, karena menurut saya kalau mengambil jurusan hukum, maka sudah pasti nantinya akan menghadapi hafalan yang sangat luar biasa mengenai undang – undang dan sebagai macamnya, membayangkannya saja saya sudah seram. Sambil berpikir dan sambil bertanya – tanya pendapat teman- teman saya, tetap saja saya tidak menemukan jurusan yang cocok dengan keinginan saya. Lalu akhirnya saya berpikir untuk mengambil jurusan yang banyak diminati teman – teman SMU saya, yaitu jurusan yang berhubungan dengan akuntansi atau manajemen. Karena sewaktu SMU saya dikelas 3 IPS. Jadi menurut saya jurusan yang paling tepat yaitu jurusan tersebut. Lalu setelah berembuk dan berpikir bersama – sama dengan teman – teman saya dan setelah saya membicarakan dengan mama saya maka saya memutuskan untuk mencoba mengikuti ujian saringan masuk untuk jurusan manajemen di universitas Trisakti. Untuk pertama kali saya mengikuti ujian saringan masuk di Universitas Trisakti dengan mengambil jurusan Manajemen, beberapa hari setelah memutuskan untuk mencoba mengikuti tes di Trisakti, saya segera pergi bersama – sama dengan teman saya untuk mengambil formulir pendaftaran di Trisakti, ketika pertama kalinya saya menginjakan kaki di kampus Trisakti, saya merasakan perasaan yang sangat berbeda sekali dengan suasana di sekolah. Lalu kami pun pergi mengambil formulir pendaftaran, lalu kami segera pulang. Dirumah, saya berusaha untuk belajar sehingga pada saat tes nanti, saya dapat lulus dan diterima. Beberapa hari setelah itu, tibalah hari untuk kami mengikuti ujian saringan masuk di Trisakti. Ketika menghadapi ujian tersebut, saya masih merasa bisa dan agak yakin diterima disana. Dan beberapa hari setelah tes, tibalah saatnya untuk meliahat papan pengumuman penerimaan mahasiswa baru, ternyata saya memang diterima, tapi saya malah menjadi bingung sendiri, saya jadi berpikir lagi, apakah sudah tepat pilihan saya. Tapi ternyata saya belum benar – benar yakin kalau saya cocok di jurusan tersebut. Lalu saya membicarakannya dengan keluarga saya dan sepertinya tanggapan dari mereka terserah kepada saya saja, asal suatu saat nanti jangan sampai ada penyesalan di hati saya. Dan karena kuliah saya dibiayai oleh kantor papa saya, dimana pembiayaannya di atur oleh paman saya, sebenarnya sewaktu SMU pun saya sudah dibiayai untuk segala macam keperluan yang berhubungan denga pendidikan, semuanya menjadi tanggungan kantor papa saya. tapi sebagai balasannya, saya harus bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan dengan kegiatan pendidikan saya dan sewaktu sekolah, setiap bulan saya harus memberikan laporan kepada paman saya, dan pada saat kuliah sampai sekarang ini setiap satu semester saya harus ketempat paman saya untuk memberikan laporan hasil KHS dan sekaligus medapatkan biaya perkuliahan saya. Maka saya juga harus berkonsultasi dengan paman saya, dan ternyata paman saya juga tidak setuju, karena menurut paman saya jurusan itu sudah terlalu banyak peminatnya, sehingga kalau ingin sukses di jurusan tersebut, saya harus benar – benar berprestasi, kalau tidak maka gelar yang didapat hanya sia – sia, karena untuk sarjana yang biasa saja sudah terlalu banyak tenaga kerjanya. Sehingga gaji yang didapat kecil atau pas – pasan. Lalu terpaksa saya membatalkan untuk mengambil jurusan Manajemen, karena saya juga menyadari kalau saya tidak terlalu kuat untuk menghafal. Lalu sambil saya sekolah saya terus menerus memikirkan jurusan apa yang hendak saya ambil, lalu saya berpikiran untuk mengambil jurusan komputer akuntansi di Universitas Bina Nusantara, karena menurut saya jika manajemen dan akuntansi sudah banyak peminatnya, mungkin jurusan ini tidak terlalu banyak peminatnya. Buktinya saja, di sekolah saya cuma ada 10 orang yang mengikuti ujian saringan masuk di Universitas Bina Nusantara, dan menurut pemikiran saya memang kalau akuntansi saja sudah banyak tenaga kerja ahlinya, tapi menurut saya jika akuntansi digabung dengan komputer, mungkin hasilnya akan lebih baik dan menurut saya banyak juga kantor yang nantinya akan membutuhkan tenaga kerja seperti itu, pokoknya menurut saya, jurusan seperti inilah yang paling pas dan sesuai untuk saya. Lalu beberapa hari kemudian, saya bersama dengan teman – teman pergi ke Universitas Bina Nusantara untuk mengikuti tes ujian saringan masuk. Tesnya lumayan sulit, tapi akhirnya saya selesai juga mengerjakan. Tapi perasaan hati saya merasa kurang nyaman juga bila saya mmengambil jurusan itu, sehingga saya tidak terlalu berminat untuk memperhatikan apakah saya diterima atau tidak, sampai saatnya beberapa hari kemudian keluarlah pengumuman hasil tes, lalu saya pergi ke sana untuk melihat hasil tes tersebut, saya pergi sendirian, karena teman – teman saya yang mengambil jurusan tersebut tidak terlalu saya kenal,ketikatiba di BINUS, saya langsung bergegas untuki melihat papan pengumuman.karena kampusnya begitu besar, dan saya baru dating untuk yang kedua kalinya, saya sampai nyasar. Dan ketika tiba didepan papan pengumuman, ternyata saya berhasil diterima, rasanya senang sekali karena menurut saya akhirnya saya sudah tenang, walaupun saya tidak terlalu berminat di jurusan tersebut, tapi setidaknya saya sudah dapat kampus untuk bernaung, selain itu teman – teman saya ada 8 orang juga yang diterima, sehingga saya juga senang karena dikampus itu saya sudah pasti ada banyak teman lama, tapi sedih juga karena 2 orang teman saya gagal, padahal mereka lebih bersemangat untuk mengikuti tes itu dan mereka sangat berminat untuk kuliah disana. Lalu beberapa hari setelah hasil pengumuman tersebut saya terima saya segera menghubungi paman saya, untuk memberitahukan hasil tes jurusan yang baru, untuk meminta pendapatnya. Besoknya saya datang kerumah paman saya dan segera membicarakan mengenai hasil tes tersebut, memang paman saya juga senang dengan hasil tersebut, saya diterima dengan grade B. Paman saya sebenarnya juga mendukung saya untuk masuk ke Universitas tersebut, tapi menurut dia apakah bedanya akuntansi dengan komputer akuntansi, karena nanti pada akhirnya seorang akuntan juga pasti harus bisa juga untuk menggunakan komputer dan saya juga menyadari kalau saya juga tidak terlalu bisa akuntansi, khususnya pada pembuatan AJP. Lalu setelah berpikir – pikir lagi, saya membatalkan juga niat untuk masuk ke jurusan tersebut. Akhirnya kembali lagi saya berpikir, akan kejurusan apalagi saya nantinya. Setelah berpikir lama dan dengan banyak berkonsultasi sama keluarga dan teman – teman, tetap saja saya tidak menemukan jawaban yang tepat. Pada saat itu saya sungguh – sungguh bingung dan stress. Sepertinya sudah tidak ada lagi jurusan yang tepat untuk saya. Sepertinya semua jurusan ada ada saja suatu hal yang tidak cocok dengan saya. Dengan berlalunya waktu dan dengan banyaknya saya berkonsultasi dengan orang – orang, akhirnya saya berhasil menemukan suatu jurusan yang cocok sekali dengan kemampuan dan kepribadian saya, yaitu jurusan Psikologi. Karena sepertinya saya dapat dengan mudah untuk mengerti suatu permasalahan seseorang dan saya juga dapat membantunya untuk memberikan berbagai alternative jalan keluar, dan sepertinya, dari beberapa orang yang saya bantu kebanyakan berhasil untuk keluar dari masalahnya, tapi yang sangat disayangkan, mengapa orang yang saya bantu dapat keluar dari masalahnya, sedangkan masalah saya sendiri, belum mendapatkan jalan keluar. Selanjutnya, setelah saya bertekad untuk mengambil jurusan Psikologi, mulailah saya untuk menjelajahi apa saja yang akan dipelajari dan bagaimana dengan masa depan psikolog, lalu saya bertanya – tanya dengan teman – teman saya, dan ada teman saya yang memberikan kejelasan bahwa untuk menjadi psikolog dan untuk membuka praktek maka kita harus mengambil sampai S2, kalau tidak maka kita tidak akan mendapatkan ijin praktek, dan dia juga bercerita bahwa ada 2 orang temannya yang mengambil jurusan psikolog tapi akhirnya malah jadi stress sendiri, bahkan ada 1 orang lagi sampai dirawat di rumah sakit jiwa. Lalu saya kembali merenung dan memikirkan dirumah mengenai kelebihan dan kekurangannya jika saya mengambil jurusan psikolgi dan akhirnya saya kembali berpikiran untuk membatalkan lagi niat untuk menjadi psikolog tanpa mengikuti tes terlebih dahulu. Dengan alasan masa kuliah yang sangat panjang, karena harus langsung sampai S2 bila tidak sama saja kuliah sia – sia, selain itu saya juga tidak mau menjadi gila lagi pula dengan jurusan psikolog tidak mungkin disetujui oleh paman saya. Padahal saya sudah berpikiran bahwa nantinya akan banyak sekali pelanggan – pelanggan saya, karena menurut pemikiran saya, suatu saat nanti banyak sekali orang – orang stress. Tapi kalau mengingat cerita dan pendapat teman saya mengenai kejadian – kejadian itu, kembali lagi saya berpikir apakah jurusan yang akan saya ambil, yang kira – kira sesuai dengan kondisi dan kemampuan saya dan akan berguna untuk sekarang dan masa depan tanpa ada lagi alasan yang menghambat. Kembali lagi saya berkonsultasi dengan sahabat – sahabat saya dan dengan keluarga saya. Dan bersamaan dengan itu saya pergi bersama teman saya untuk membeli komputer disuatu tempat pusat perbelanjaan barang – barang elektronik khususnya komputer dan berbagai perlengkapannya. Dan berbagai macam peralatan elektronik lainnya. Sambil berjalan – jalan, saya melihat ada suatu toko didalam ruangan tertutup, ternyata toko tersebut adalah suatu toko tempat untuk penerimaan pembuatan program komputer, dimana didalamnya terdapat lebih dari 8 orang pekerja, Disaat itulah, saya mendapatkan ide untuk mengambil jurusan teknik informatika. Karena menurut saya dengan jurusan tersebut akan sangat mendukung kearah masa depan yang lebih pasti, karena saya yakin sekali, bahwa di masa depan nanti akan banyak sekali peralatan dan berbagai hal yang sangat membutuhkan dukungan teknologi komputer, karena seperti sekarng saja sudah hampir semua barang menggunakan alat elektronik yang dikendalikan oleh chip komputer yang sudah diprogram. Tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya dimasa depan nanti akan banyak sekali berbagai jenis robot yang akan digunakan sesuai dengan fungsinya. Oleh sebab itu saya sangat yakin dengan pilihan saya untuk masuk ke jurusan Teknik Informatika. Tapi saya menjadi bingung lagi, karena jurusan teknik informatika di Universitas Bina Nusantara membutuhkan lulusan IPA, sedangkan saya di jurusan IPS. Kembali lagi saya bertanya pada teman – teman saya, dan ternyata ada juga teman saya yang berniat untuk mengambil jurusan Teknik Informatika, ada yang dari jurusan IPS dan ada juga yang dari jurusan IPA. Ternyata ada kampus yang benar – benar sesuai dengan keinginan saya, yaitu Universitas Tarumanagara. Karena di UNTAR untuk jurusan teknik informatika diperbolehkan untuk lulusan IPA dan IPS. Sehingga sangat sesuai sekali dengan keberadaan saya yang lulusan IPS, karena memang dari lubuk hati saya yang paling dalam saya kurang berminat dengan jurusan IPS yang sebenarnya, seperti jurusan akuntansi, manajemen, hukum,dan lainnya. Padahal saya sendiri tidak mengerti kenapa saya tidak berminat pada jurusan- jurusan yang disediakan untuk lulusan IPS. Yang pasti menurut kata hati saya di jurusan Teknik Informatika ini lebih berguna. Padahal sebenarnya saya juga belum tahu betul apa saja yang nantinya akan saya pelajari dijurusan itu. Tapi yang terpenting saya sudah memutuskan kalau saya harus diterima terlebih dahulu pada ujian saringan masuk. Yang ada dipikiran saya sementara itu, seorang lulusan Teknik Informatika adalah orang yang bekerja sebagai programmer. Dan beberapa hari kemudian saya pergi bersama – sama dengan teman saya untuk mengikuti tes. Ternyata, tes di Universitas Tarumanagara memperbolehkan kita untuk memilih 2 jurusan. Tapi saya lupa jurusan apalagi yang saya ambil, lalu saya mengikuti tes tersebut. Ternyata tesnya susah juga. Setelah selesai tes, saya merasa ragu juga apakah saya diterima di jurusan yang benar – benar saya inginkan ini. Lalu setelah tes, saya kembali berkumpul dengan teman – teman saya yang bersama mengikuti tes di sana. Dan ternyata mereka juga masih belum yakin apakah pasti diterima. Lalu kami pergi makan bersama, sambil berbincang – bincang mengenai soal tes yang kami hadapi, lalu kami semua kembali kerumah masing – masing. Sambil menunggu hasil tes, beberapa hari sudah terlewati, saya sambil mencari – cari informasi mengenai teknik informatika, tapi ternyata kabar buruk yang saya dapat, katanya di jurusan tersebut, pelajarannya sangat sulit. Katanya kalau memang diterima, coba saja dulu sampai 3 semester, kalau masih betah berarti jurusannya cocok. Katanya kebanyakan anak – anak yang ambil jurusan tersebut, banyak yang pindah jurusan karena materi pelajaran yang diberikan sangat berat dan sulit, apalagi pada anak lulusan IPS yang memaksakan mengambil jurusan Teknik Informatika, nantinya pasti akan nyesel karena banyak pelajaran menghitungnya seperti kalkulus dan fisika. Sambil merenungkan apakah jurusan ini cocok buat saya, beberapa hari berlalu dan akhirnya tibalah hasil pengumuman tes di UNTAR, saya berangkat bareng – bareng dengan teman saya, ada yang dari sekolah lain juga, tapi mengambil jurusan yang sama dengan saya. Lalu tibalah kami di UNTAR, lalu kami parkirkan motor di lapangan basket, yang sekarang sudah jadi gedung yang megah. Lalu saya masuk untuk melihat pengumuman di gedung M, jantung sudah terasa berdebar keras. Tapi ternyata ketika melihat papan pengumuman ternyata saya diterima, rasanya senang sekali, akhirnya saya merasa tenang juga. Tapi kembali lagi saya sedih, karena 3 teman saya tidak diterima di jurusan teknik informatika, tapi diterima dijurusan yang lain. Ketika itu saya baru sadar, ternyata jurusan kedua yang waktu tes itu saya tulis adalah jurusan cadangan. Untung saja saya diterima sesuai dengan jurusan yang saya inginkan. Saya menghibur teman saya yang lagi bersedih itu terlebih dahulu,tetapi untungnya jurusan cadangan yang dia dapatkan memang sesuai juga dengan keinginan mereka, sehingga kesedihan mereka tidak berlangsung lama. Segera saja kami meninggalkan papan pengumuman tersebut dan kami menuju ke kantor tempat pengambilan surat tanda lulus ujian saringan masuk, tapi saya lupa diterima dengan grade apa, yang pasti saya sudah diterima. Lalu kami semua segera pulang kerumah masing – masing. Segera malam itu juga saya menghubungi paman saya untuk berkonsultasi lagi. Semalaman saya tidak bisa tidur karena memikirkan langkah apa yang selanjutnya harus saya ambil agar saya bisa tenang dan betah kuliah dijurusan ini. Keesokan harinya saya pergi ke rumah paman saya untuk berkonsultasi secara resmi, dan saya menceritakan mengenai jurusan teknik informatika setahu saya, ternyata paman saya langsung menyetujuinya, sepertinya dia juga sanagt tertarik. Dan ia juga berkomentar bahwa jurusan Teknik Informatika sepertinya lebih condong ke masa depan karena didasarkan pada teknologi dan komputer.

Lalu beberapa hari kemudian, saya bersama dengan teman – teman saya segera kembali ke Universitas Tarumanagara untuk mengurus biaya – biaya dan berbagai macam keperluan. Akhirnya saya merasa sudah sangat tenang karena sudah ada kampus yang bisa dimasuki. Dan hanya tinggal menyelesaikan sekolah saja. Sampai akhirnya saya sudah lulus SMU. Beberapa saat kemudian mulailah saya masuk ke Universitas Tarumanagara. Disana Kegiatan pertamanya namanya POLMA, kalau waktu SMU namanya MOS. Kegiatan ini diadakan dengan tujuan agar para junior dapat dengan cepat mengenal kondisi kampus dan dengan lebih cepat mengenal para senior. Katanya banyak yang nganjurin tidak perlu mengikuti kegiatan tersebut, karena hanya kegiatan kakak – kakak senior yang usil dan mau menyiksa juniornya. Tapi saya memaksakan diri untuk mengikuti kegiatan tersebut, karena sepertinya kurang lengkap kalau saya tidak mengikuti POLMA. Beberapa hari berlalu di POLMA dan ternyata memang benar – benar melelahkan, karena harus bangun pagi dan direpotkan dengan berbagai kegiatannya, tapi walaupun begitu, kegiatannya sangat berkesan dan tidak akan terlupakan. Apalagi ketika ada kegiatan yang namanya IDO (Informatics Days Out), itu kegiatan yang sangat melelahkan, tapi saya tetap mengikutinya, banyak sekali kesan dan kenangan yang indah dan juga menyakitkan. Beberapa hari setelah itu, akhirnya kami memulai pelajaran yang sesungguhnya didalam kelas. Sangat berbeda sekali suasananya dengan waktu di SMU. Dengan baju bebas dan semuanya serba bebas, boleh pakai sandal tapi untuk saat – saat tertentu kita juga harus tetap pakai sepatu, seperti pada saat ujian dan pada berbagai saat yang mengharuskan kita pakai sepatu. Peraturan dikampus memang agak berbeda dengan disekolah, memang lebih renggang tapi tetap harus mengikuti peraturan yang ada. Sewaktu baru – baru memasuki kampus memang terasa agak canggung, apalagi ketika baru – baru masuk kelas dan bertemu dengan dosen, rasanya agak berbeda dengan pada waktu bertemu guru. Tapi bila dibandingkan memang lebih enak ketika kuliah daripada di SMU. Tetapi memang ada sisi lebih dan tetap ada sisi kurangnya. Ketika baru memulai pelajaran disemester pertama saya merasa agak sulit dan berat. Tapi ketika saya merasa mau dan mencoba untuk mendalami, lama – kelamaan saya mulai bisa mengikuti pelajaran – pelajaran yang lain. yang berbeda dengan kelas pada saat SMU hanya pada pelajaran fisika, karena sudah lama sekali rasanya kita tidak bertemu dengan pelajaran fisika, sehingga untuk yang pertama kalinya, kita akan merasa sulit dahulu, lalu pelajaran yang jauh berbeda yaitu pelajaran yang sudah berunsur komputer, terutama algoritma, untuk pertama – tama memang sangat membingungkan, tapi kita tetap harus memperhatikan dan harus dengan cepat untuk betrusaha mengerti, kalau tidak maka kita akan lebih cepat tertinggal. Untuk pelajaran pada semester satu kita akan diberikan pelajaran algoritma 1 dimana pada pelajaran tersebut diikuti dengan lab C++, ini pelajaran pemrograman dasar yang sudah cukup sulit. Kita harus benar – benar menguasainya, karena untuk melangkah ke bahasa pemrograman yang lain, pola berpikir dan bahasa pemrogramannya agak mirip. Dengan agak berat saya terus mencoba bertahan pada jurusan teknik informatika ini. Pada dasarnya, program studi teknologi informasi ini, terbagi dalam 3 jurusan yaitu Teknik Informatika, Sistim Informasi, Sistim Komputer. Dimana masing – masing mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Sehingga lulusan dari masing – masing jurusan akan mempunyai keahlian yang berbeda. Dengan berjalan agak terseok- seok, saya terus berusaha untuk melanjutkan semester demi semester, namun terjadi suatu kejutan yang luar biasa, pada semester 3, saya terpaksa mengambil cuti, dikarenakan saya telat mengisi krrs, hal tersebut merupakan suatu kejadian yang sangat mengecewakan, karena saya menjadi tertinggal agak jauh dari teman – teman saya yang seangkatan. Karena kejadian tersebut, membuat saya sempat berpikir untuk tidak melanjutkan kuliah lagi. Tetapi saya tersadarkan sendiri karena ketika saya cuti selama 6 bulan rasa membosankan yang sangat amat terjadi pada hari – hari saya. Sehingga pada akhirnya saya sangat berniat untuk melanjutkan lagi kuliah saya, sehingga sampai saat ini. Memang nilai – nilai saya tidak begitu memuaskan, hanya sekedar cukup saja. Tapi saya akan selalu berusaha semaksimal mungkin. Pelajaran yang saya dapat sampai saat ini memang cukup sulit, tapi saya masih bisa mengikuti dan tidak sampai pindah jurusan, yang penting saya mau belajar dan tidak malas, kebanyakan pelajaran yang diberikan sangat berhubungan dengan komputer dan berbagai programnya. Kalau hanya dipikirkan dan dirasakan maka memang sangat terasa berat, tapi kalau kita jalankan maka akan terasa sangat menarik. Sampai saat ini saya sudah sampai pada semester 8 dan sudah banyak pelajaran yang saya ambil dan dapatkan.Tapi kesan saya terhadap Teknik Informatika sangat baik dan saya sangat yakin bahwa jurusan yang saya pilih tidak salah. Walaupun agak berat menjalaninya. Tapi dapat dipastikan akan berguna untuk masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: