Komputer Dan Mayarakat oleh Lim Dedy

Mengapa saya memilih IT di Untar

Kalimat di atas bisa dijadikan judul maupun pertanyaan. Kira-kira seperti itulah yang akan saya bahas disini. Kebanyakan orang tahu tentunya mengenai apa itu yang dimaksud dengan Untar. Tetapi bagi yang belum tahu, Untar itu adalah singkatan dari Universitas Tarumanagara yang mana terdapat bermacam-macam fakultas. Yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Fakultas Teknologi Informasi. Serta tiga Program Magister yaitu Program Magister Ilmu Hukum, Program Magister Teknik Sipil, dan Program Magister Manajemen. Itu merupakan penjelasan secara garis besar, yang ingin saya fokuskan disini adalah mengenai fakultas teknik informatikanya.
Bila ditanya mengapa saya mengambil IT di Untar. Saya juga bingung, kenapa saya bisa sampai disini. Mungkin anda berpikir itu tidak mungkin jika saya mengambil jurusan ini tanpa sebab. Memang begitu kenyataannya, semenjak sekolah dasar, saya lupa pada waktu kelas berapa. Saya mulai merasakan kejenuhan sekolah, saya tidak tahu apa yang menyebabkan menjadikan saya malas sekolah. Mungkin memang saya adalah seorang pemalas, ya saya seorang pemalas, yang setiap harinya harus bangun jam enam pagi, untuk pergi mandi, lalu ke sekolah, diantar dijemput diantar dijemput begitu dan seterusnya dan seterusnya dengan kondisi agak terpaksa. Maaf sebelumnya, saya disini berbicara bukan tentang kenapa saya memilih Untar berdasarkan apakah Untar itu baik, atau Untar itu begini, Untar itu begitu. Saya hanya mencoba menceritakan tentang saya, murni pengalaman pribadi diri saya sendiri. Bila anda sedang mencari referensi tentang Untar, saya pikir anda bisa segera menyudahi membaca blog ini.
Terima kasih untuk kesediaannya masih ingin membaca tulisan saya. Mengapa saya sebutkan terpaksa, karena memang saya tidak ingin belajar. Saya hanya ingin bermain, mungkin itu memang menjadi kesulitan bagi orang tua yang mendidik anaknya. Setiap hari tidak pernah belajar, hanya bermain dan bermain tanpa henti. Meskipun dipaksa belajar atau sampai diberi hukuman tetap pikiran saya melayang jauh meski fisik saya berada duduk di meja belajar pada saat itu. Tetapi entah mengapa juga saya selalu naik kelas, seingat saya dari kelas taman kanak-kanak hingga kelas empat saya masih rajin belajar, saya masih sempat selalu mendapatkan ranking sepuluh besar. Pada saat saya duduk di bangku kelas lima sd, saya mulai hancur-hancuran nilai pelajarannya. Bisa dibilang hampir tidak naik kelas. Entah apa yang membuat saya kebal terhadap semua hukuman, sehingga tetap saja saya bermalas-malasan.
Tetapi untungnya saya naik kelas juga, pada saat kelas enam saya mulai belajar normal kembali, karena pada saat itu saya ikut serta dalam bimbingan belajar. Mungkin orang tua saya beranggapan sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mengajar. Cerita ini sebenarnya sangat menguras otak dan pikiran saya untuk diingat ingat kembali, saya harus berpikir keras agar bisa semuanya saya ceritakan kepada semua pembaca yang ingin mengetahui tentang mengapa saya memilih IT di Untar. Sekarang jam menunjukan pukul dua belas lewat empat puluh tiga menit tengah malam. Saya tadi habis mengambil kelas komputer dan masyarakat dan karena baru pertama kali masuk, saya harus mengarang seperti ini sebanyak lima ribu lima ratus kata yang mana sekarang baru hampir lima ratus kata saja, bearti ada sekitar sepuluh halaman seperti ini yang harus saya ketik sedetil detilnya agar nanti pas di akhir tidak kehabis kata kata.
Memalukan memang untuk mahasiswa seperti saya, yang sudah terhitung lima tahun kuliah semenjak tahun dua ribu dua, tetapi semester depan saya juga belum skripsi. Saya hanya bisa membayangkan betapa bahagianya bila saya sudah lulus seperti teman teman saya. Memang bagi manusia pada umumnya, menyesal tidak di depan depan, pasti dikemudian belakang hari. Saya tidak tahu bahkan, ada pepatah bilang belajar dari pengalaman, atau bersusah susah dahulu bersenang senag kemudian atau jadikan pengalaman yang buruk sebagai pelajaran. Setiap hari kita bertambah usia, tetapi kadang manusianya yang tidak mau berubah, sifat ketidak dewasaan rasanya berat untuk ditinggalkan, itu yang saya rasakan hingga kini. Mengapa saya mengambil IT di Untar.
Terus terang saya sudah semakin lelah dengan waktu yang terus berjalan, saya masih harus mengetik mengetik dan mengetik demi mengumpulkannya besok pagi sebisa mungkin asal jangan lewat dari jam dua belas siang. Ya saya menyesal minggu lalu saya tidak masuk kuliah, jika saya masuk tentunya saya hanya membuat dua ribu kata saja. Bodohnya saya juga tidak menanyakan lagi ada tugas apa pada waktu saya tidak masuk itu kepada teman teman. Tetapi bila saya berpikir seperti itupun, saya juga tidak tahu harus menghubungi siapa karena tidak ada teman saya yang biasanya sekelas dengan saya yang juga mengambil mata kuliah ini. Memang bila dibandingkan dengan tugas tugas yang lain, tugas ini termasuk hal yang masih masuk akal.
Skripsi oh skripsi, itu saja yang saya pikirkan belakagan ini. Bila tadi saya baru bercerita mengenai sekolah dasar saya, sekarang saya akan bercerita tentang masa masa remaja saya atau lebih tepatnya disingkat abg. Tidak penting sepertinya bila saya menyebutkan nama nama tempat saya bersekolah, intinya semua swasta, termasuk Untar ini. Ya mungkin itu bisa dijadikan salah satu dari sekian banyak alasan mengapa saya memilih Untar jurusan teknik informatika. Saya sekolah di sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah umum yang berbeda beda. Setelah lulus lulusan sekolah dasar, saya pun tetntunya melanjutkan ke sekolah mengah pertama yang mana terkenal denagn tingkat kesulitan yg cukup diakui pada saat itu. Sama halnya dengan waktu pada saat saya kelas lima sekolah dasar yang lalu, penyakit malas saya belum berubah.
Masih ingat di otak saya teman teman baru, sekolah baru, guru guru baru, dan seragam baru yang serba biru itu. Sempat berpikir mengapa kita perlu sekolah, apakah untuk gengsi, apakah matematika atau fisika itu dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari. Pada saat itu saya masi kecil, tetapi sekarang saya baru meyadari sekolah itu ternyata sangat penting. Bisa dibayangkan bila kita tidak bersekolah, misalkan hanya sampai sekolah dasar saja. Maka kita bisa melihat mereka meraka yang sekarang hidup susah dipinggir pinggir jalan atau di kolong kolong jembatan, bahkan merekapun ada yang sangat ingin bersekolah tetapi tidak mampu. Mengapa bisa terjadi hal demikian, mungkin karena orang tua mereka juga bukan berasal dari yang bersekolah juga.
Sekolah menengah pertama tingkat satu saya jalani dengan malas malasn, tiada hari tanpa tidak belajar. Bukan bearti saya hanya bengong di kelas, atau melamun. Saya juga tetap mngerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah, tetapi bila ulangan harian diadakan saya tidak pernah belajar dengan sungguh sungguh, alhasil nilai saya jelek jelek. Lebih parah lagi bila ulangan umum, saya tidak pernah menyentuh buku sama sekali. Begitu dan seterusnya tetapi saya tetap naik kelas hingga tingkat tiga. Mengapa bisa? Karena saya selalu mengharapkan cawu ke tiga kalau bagus pasti naik kelas. Memang seperti itu keanyataannya. Hingga pada suatu titik saya kena getahnya, yaitu pada saat kelas tiga sekolah menengah pertama.
Dengan bodohnya berdua dengan teman, saya dan yang menemani saya dinyatakan tidak lulus. Ternyata sekolah punya standar kelulusan masing masing, bisa dibilang saya mending tidak usah naik kelas pada waktu saya tingkat satu atau tingkat dua asalkan saya lulus pada saat tingkat tiga. Apabila anda mengatakan mungkin bisa jadi saya tidak naik kelas juga, dan tidak lulus juga, tetapi saya akan membela diri dengan mengatakan tentunya bila saya tidak naik kelas terlebih dahulu, saya mungkin akan jera dan berusaha untuk lebih giat sehingga saya bisa lulus.
Bayangkan teman teman saya makan siang pada saat beristirahat pada jam yang sama, ketika itu mereka mengenakan celana panjang yang masih biru seperti baru, sedangkan saya masih bercelana pendek dengan warna yang pudar serta kusam. Hati kecil saya tidak dapat berkata kata, yah ada sebab ada akibat. Anda pasti mengira semenjak kegagalan pertama saya itu, saya bersemangat belajar mati matian. Tidak, anda salah. Saya masi tetap bermalas malasan, cawu satu, cawu dua terlalui, dan seperti biasa di cawu tiga saya baru berperang mati matian lagi. Lulus juga akhirnya, saya percaya dimana ada kerja keras, pasti ada hasil. Tetapi saya tidak bisa menghilangkan penyakit malas saya ini. Bisa dibilang saya sedang berperang mati matian melawanya. Cerita saya sudah setengah jalan, tetapi statistic menunjukan bahwa saya baru mengetik hanya sekitar seribu tiga ratus kata, bearti masih ada empat ribu dua ratus kata lagi yang harus saya ketik. Mengapa saya memilih IT Untar.
Bila anda perhatikan, saya tidak sedang bercerita tentang kehidupan saya sehari hari secara detail, tetapi yang ada hubungannya saja dengan pendidikan. Karena yang sedang ktia bicarakan disini adalah pendidikan. Buat saya berbicara mengenai pendidikan memang mudah. Contohnya, mengapa negara kita tertinggal jauh oleh negara negara yang lainnya, jangankan dibandingkan dengan negara amerika serikat, badingkan saja dahulu dengan negara tetangga seperti singapura dan Malaysia. Tentang pendidikan, kita tertinggal jauh, oleh sebab itu mengapa banyak orang yang ke negri tetangga untuk mencari ilmu, bila dibandingkan otak orang indoneisa harusnya sama pinternya dengan otak orang singapura atau Malaysia. Tetapi kenapa diluar negri selalu menjadi patokan yang lebih baik. Seperti yang saya bilang tadi, bila kita berbicara mengenai pendidikan memang mudah.
Bagaimana dengan pelaksanaannnya. Mengapa dosen dosen lulusan luar negri mendapat peringkat mengajar yang lebih tinggi ketimbang dosen dosen lokal, yang tentunya mereka juga belum tentu lebih buruk ketimbang dosen luar negri. Dan belum tentu juga lulusan luar negri pasti lebih baik daripada lulusan dalam negri. Pertanyaan saya, mengapa banyak yang memilih keluar negri apabila mampu, dibanding utuk tetap kuliah di dalam negri. Dunia itu luas tentunya banyak hal hal baru yang memungkinkan menjadi jawaban bagi kita masing masing. Maka dari itu silahkan dijawab sendiri sendiri. Saya cukup kagum apabila ada orang yang memang serius mebaca tulisan saya ini, karena terus terang mungkin sudah ngawur, tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk tetap menyelesaikan tulisan ini hingga lima ribu lima ratus kata. Seribu lima ratus sejauh ini, empa ribu to go.
Terpikir oleh saya untuk tidur dan melanjutkannya esok pagi, komputer sudah saya matikan, dan mencoba untuk tertidur, sunguh seperti orang setres saya tidak bisa terpejam, alhasil membuang sepuluh menit dengan sia sia. Saya pikir ini bagus untuk dijadikan latihan mental yang tidak seberapa ini. Saya berharap akan ada hasilnya yang saya bisa petik di kemudian hari. Sudah memasuki halaman ke empat, bearti tinggal kurang lebih enam halaman lagi, saya pasti bisa. Setelah saya bercerita tentang masa lalu saya yang akan saya jadikan acuan mengapa saya memilih IT di Untar. Bisa dibilang sesungguhnya ini diluar dugaan. Bila dilihat dari cerita cerita saya, bahkan rasanya tidak mungkin bila saya mengambil perguruan tinggi atau dengan kata lain universitas. Teman teman tentu masih ingat dengan jawaban saya yang mengenai saya juga tidak tahu menahu mengapa saya bisa memilih It di Untar. Pada dasarnya saya adalah seorang pemalas yang suka bermain game, tentu anda tahu game itu dibuat dengan menggunakan computer. Dan dengan percaya diri saya mengatakan saya senang main game, maka oleh sebab itu mungkin saya akan hobi dengan apa yang dinamakan dengan computer.
Memang pada dasarnya saya malas dan kurang membaca, bisa dibilang orang cuek, orang yang serba idak mau tahu, tidak peduli dengan apapun yang terjadi, itulah saya. Dengan tahu menahu tentang apa itu IT, pada saat itu saya hanya tahu bahwa IT itu erhubungan dengan computer, tanpa computer tidak ada IT, dan begitu juga sebaliknya. Bahkan pada saat tes ujian saringan masuk, saya hanya mendftar satu universitas saa, dengan notabene apabila pada saat itu saya tidak keterima, maka saya tidak akan kuliah. Bukannya berarti saya pasrah atau malas ketempat lain, tetapi memang tidak ada pilihan lagi bagi saya seorang lulusan asal ilmu pengetahuan social. Di binus hanya anak ilmu pengetahuan ala yang bisa masuk ke IT. Bila anda bertanya mengapa saya tidak masuk ke SI dengan tingkat yang lebih mudah, sejujurnya setelah beberapa semester saya baru menyadari apa itu IT, apa itu SI. Bodoh memang, orang seperti saya sebenarnya tidak pantas duduk di bangku kuliah. Tetapi apa boleh dikata, saya coba berjuang sekuatnya sampai batas terakhir yang mana saat ini sudah berjalan lima tahun. Rencananya saya akan skripsi satu tahun lagi. Sepertinya uang, umur dan tenaga hampir sia sia. Maka saya memohon dukungan dari teman teman semua untuk membuktikan kalau akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah yang berat ini.
Saya amat sangat tidak menyukai kuliah saya sekarang yang ternyata bermain di dalam programming, jadi pertanyaan sudah terjawab bukan. Ke satu karena saya terjebak akibat tidak tahu menau tentang apa itu IT. Ke dua karena hanya Untar yang memperbolehkan anak social untuk turut serta mengambil jurusan ini. Bisa dibilang saya berada di dalam kelompok orang orang tersesat. Perumpamaannnya sama seperti malaikat di surga, setan di neraka. Maksudnya tempat dimana saya tersesat ini sebenernya baik adanya, karena saya tidak menyukai, jadi fatal akibatnya. Saya sudah menerima surat dari Untar selama 4 tahun berturut turut mengenai kondisi pembelajaran saya.
Sempat saya konsultasikan dengan pihak keluarga, tetapi mereka tetap mengharuskan saya untuk dijalankan saja. Maklum, keluarga saya bukan seperti orang orang yang kebanyakan uang yang membebaskan anaknya untuk menyia nyiakan kesempatan pertamanya dengan sia sia, meski sekarang tidak lulus luluspun pasti akan sama saja hasilnya dengan jika pada saat itu saya pindah dengan jurusan yang saya sukai. Mungkin anda bertanya, saya sudah besar mengapa saya bertindak seperti ini. Sesuai dengan apa yang saya bilang, berbicara memang lebih mudah, saya juga tidak mau dengan keadaan pemaksaan seperti ini, sama halnya dengan megarang lima ribu lima ratus kata ini hanya dalam waktu sehari. Untung dalam bahasa Indonesia dan saya belum banyak tugas yang lain lain. Begitulah orang Indonesia, selalu masih terdapat untung meski dalam kesusahan. Dengan kata lain yang selalu bersyukur dan pasrah kepada Tuhan. Oleh sebab itu saya akan mencoba berjuang di IT Untar ini, yang bila saya lihat gajinya tidak seberapa berdasarkan teman teman saya yang sudah lulus kuliah bahkan hanya tiga setengah tahun. Mereka tetap harus memulai karir dari awal, hidup memang penuh perjuangan, tidak henti hentinya saya bicarakan saya mengetik disini dengan berjuang megalahkan rasa ngantuk, kecewa, dan menyesal di belakang hari yang tidak berguna itu.
Tetapi saya mempunyai motivasi untuk setidaknya mencapai impian mnjadi sarjana, saya tahu orang seperti saya ini tidak akan terpakai di kalangan informatika. Tetapi mengapa saya masih disini, mengapa secara kebetulan saya diterima di Untar, bisa saja saya tidak sesuai dengan persyaratan yang ada, tetapi nyatanya saya diterima sebagai mahasiswa Untar yang bearti menunjukan bila saya mampu. Saya menyesal tidak serius dari awal, dan pasti penyesalan selalu diakhir dan tidak berguna.
Minimnya kemampuan berbahasa Inggris juga menjadi hambatan bagi ahli informatika Indonesia untuk bersaing dengan ahli yang sama dari negara lain. Kendala bahasa itu menyebabkan daya saing lulusan dari Indonesia di dunia internasional menjadi rendah. Hal itu berbeda keadaannya dengan tenaga ahli dari negara lain, contohnya di India. Tenaga ahli dari India sangat lancar berbahasa Inggris. Mereka tidak ada masalah dengan bahasa sehingga dapat dengan mudah mempelajari modul-modul berbahasa Inggris, termasuk bahan-bahan dari internet.
Karena daya saing yang rendah itu, kebanyakan ahli informatika Indonesia hanya bekerja di dalam negeri. Sedangkan, sebagian besar ahli dari India justru keluar dari negaranya untuk bekerja di Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Asia lainnya. Jika tidak segera diantisipasi, selamanya tenaga ahli dari Indonesia hanya akan bekerja di dalam negeri. Bekerja di dalam negeri pun bukan tanpa masalah. Ahli teknologi informasi dari India yang bekerja di Indonesia rata-rata adalah pekerja yang tekun dan tidak menuntut banyak fasilitas. Di India, mereka yang bekerja di pabrik pemprograman komputer hanya bekerja dengan fasilitas kipas, tidak ada AC, dan fasilitas seperti di kantor-kantor kita. Jadi ketika mereka keluar dari negara mereka, mereka sudah terbiasa bekerja dengan fasilitas seadanya dan tidak terlalu menuntut. Ada juga tenaga dari India yang mau digaji lebih rendah dari kita. Di Jakarta, perusahaan informatika yang dijalankan 80-90 persen orang India jumlahnya sangat banyak.
Namun, kita tidak perlu berkecil hati karena tenaga ahli kita juga memiliki kemampuan teknis yang tidak jauh berbeda. Orang Indonesia dan orang Asia lainnya kan mempunyai otak kiri lebih kuat, artinya kita kuat dalam bidang matematika, kuantitatif, dan logika. Jadi secara tipikal hampir sama. Ahli teknologi informasi dari Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk bekerja di luar negeri. Untuk itu perguruan tinggi perlu menyiapkan lulusan informatika yang mampu bersaing dengan negara lain. Salah satunya dengan membuka program internasional sehingga mahasiswa memperoleh sertifikat yang diakui dunia yang amat disayangkan Untar tidak memilikinya. Malah yang terjadi adalah penurunan akreditasi, disebabkan lulusan lulusan yang sebenarnya belum siap kerja, bila dibanding dengan lulusan negara lain yang apabila saat itu lulus, saat itu pula mereka siap untuk bekerja sepenuhnya.
Masalah lain yang terjadi di Indonesia yang tidak asing lagi di telinga kita yakni tentang pembajakan prangakat lunak, yang kerap kali menjadi perhatian oleh negara negara maju seperti amrika contohnya. Mereka mengiming imingkan hadiah uang dalam bentuk yang cukup besar untuk ukuran orang Indonesia. Sayangnya para aparat penegak hokum juga menerima yang tak kalah besarnya dari para penjual perangkat lunak bajakan, sepri di mangga dua pada umumnya. Mereka setiap kali rutin diadakan razia pengrebekan, tetapi setelah sandiwara itu berakhir, mereka tetap membuka toko seperti biasa. Itulah yang meatikan para programmer di Indonesia, jadi mereka semua lebih memilih untuk membelinya langsung yang sudah jadi, karena harga lebih murah dibanding menyewa orang untuk membuatnya.
Dari sekitar 200-an pengembang software yang dicatat Asosiasi Piranti Lunak Indonesia yang saya baca di surat kabar pada waktu itu, mestinya lebih dari 100 peserta yang ikut andil dalam ajang ini. Bentuk pengembangan software yang ditawarkan pengembang software lokal di Indonesia rata-rata masih berupa enhancement (penyempurnaan) dari produk yang sudah ada dan fokus pada kebutuhan yang dihadapi sekarang. Belum ada bentuk terobosan riset yang berorientasi jangka panjang terutama diharapkan dari riset mahasiwa. Sedangkan pengembangan software harus terus didorong menuju sasaran terbentuknya masyarakat berbasis pengetahuan. Tahun dua ribu enam hingga dua ribu sembilan diharapkan bisa menjadi tahun pendayagunaan dan pemanfaatan IT dalam bidang usaha, pemerintahan, dan hiburan. Saat ini Indonesia baru berada di level pertama dari tujuh level pengembangan masyarakat berbasis IT.
Ribuan warung internet di Indonesia terancam ditutup oleh pihak kepolisian karena menggunakan software aplikasi berlisensi untuk internet secara ilegal. Hal ini bisa berdampak pada munculnya belasan ribu penganggur baru akibat tutupnya bidang usaha tersebut. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan dengan memberikan bantuan pendanaan bagi pemilik warung internet, mengusulkan pemberlakuan sistem pembayaran yang ringan, dan mendorong dikembangkannya software aplikasi berbasis open source. Operasi pembersihan yang tengah dilakukan polisi saat ini merupakan tindak lanjut dari laporan Business Software Alliance yang mensinyalir banyak penggunaan piranti lunak aplikasi untuk internet berlisensi yang digunakan secara ilegal oleh pemilik warnet. Pada razia itu, sejumlah warnet bukan hanya ditutup dan diberi garis polisi, fasilitas komputer yang ada di lokasi akan disita. Selain itu, pemilik warnet akan diajukan ke pengadilan atau mungkin dijebloskan terlebih dahulu ke dalam penjara.
Ketentuan yang mengharuskan pengelola warnet membeli software berlisensi-yang harganya tidak tergolong murah-memang disadari akan memberatkan mereka. Jika pemilik warnet harus membayar sesuai dengan biaya komersial terhadap aplikasi yang dipakai, maka dengan tarif warnet yang berlaku saat ini tidak akan ada warnet yang dapat hidup. Dari yang say abaca, saat ini ada sekitar empat ribu warnet yang beroperasi di Indonesia. Disinyalir hampir seluruhnya menggunakan aplikasi yang ilegal. Jika satu warnet menghidupi empat orang, maka tindakan ini berpotensi menimbulkan enam belas ribu penganggur baru. Hal ini tentu akan menimbulkan masalah sosial. Untuk itu, pemerintah dinilai perlu melakukan beberapa alternatif kebijakan. Di antaranya berupa pemutihan, dalam arti pemerintah akan mengeluarkan sejumlah dana bantuan untuk membayar aplikasi yang digunakan pemilik warnet sehingga mereka tidak dikenakan denda. Alternatif lain mengadakan negosiasi dengan memberlakukan grace period selama tiga bulan untuk mencicil lisensinya atau melakukan migrasi ke piranti opensource. Selain itu, warnet yang mampu hendaknya mengembangkan aplikasi untuk warnet yang berbasis opensource.

Program ini bertujuan mendorong semua kalangan di Indonesia untuk menggunakan piranti komputer berlisensi secara legal dan mengembangkan piranti lunak yang berbasis opensource. Saat ini kelompok pengembang opensource dalam rangka gerakan membangun program aplikasi untuk warnet berbasis opensource. Diharapkan dalam waktu satu bulan aplikasi untuk internet dapat selesai dibangun dan dapat didemonstrasikan pada Openhouse Inovation Opensource Software. Dalam program itu dibuat dua paket aplikasi opensource untuk server dan desktop. Software untuk server antara lain untuk lokasi Internet Protokol, sistem pengamanan, sistem pembayaran, dan proxy. Sementara pada komputer desktop dikembangkan software aplikasi perkantoran, web browser, chatting, dan pengiriman surat elektronis. Pengembangan aplikasi ini melibatkan kalangan perguruan tinggi, perusahaan komputer, dan komunitas teknologi informasi, di antaranya Kelompok Pengguna Linux Indonesia dan Jave Users Group. Adapun untuk penerapan program aplikasi ini sepenuhnya akan dilakukan oleh Asosiasi Warnet Indonesia. Mereka akan menyelenggarakan pelatihan penggunaan aplikasi ini pada pelatih di berbagai daerah. Selain itu, pusat informasi tentang aplikasi tersebut akan didirikan di Departemen Komunikasi dan Informasi dengan melibatkan anggota asosiasi warnet indonesia.
Salah satu pertanyaan yang selalu mengganggu saat melihat perkembangan teknologi komunikasi informasi di Indonesia adalah apakah betul karena penetrasi komputer, rasio komputer-siswa di sekolah-sekolah, serta penetrasi internet yang rendah menjadi satu-satunya ukuran terjadinya kesenjangan digital? Logika digital gap ini juga memicu pertanyaan lain, apakah betul dengan pengurangan 10 poin pemberantasan tingkat pembajakan hak cipta pada posisi 87 persen sebagai ketiga terbesar di dunia akan meningkatkan ekonomi sebanyak tiga kali, meningkatkan pendapatan pajak pemerintah sebanyak lima kali, serta meningkatkan lapangan kerja sampai 13 kali. Logika digital gap dan pemberantasan pembajakan hak cipta ini dipasok Microsoft Indonesia ke para eksekutif pemerintahan, mulai dari Presiden sampai ke para bawahannya yang mengendalikan jalannya negara. Logika ini juga yang menyebabkan terjadinya kesepakatan Memorandum of Understanding antara Pemerintah RI dan Microsoft.
Kita sekarang berada pada sebuah situasi yang benar-benar membingungkan, apakah pemahaman kita yang tidak memadai sehingga sulit untuk memahami logika terjadinya penandatanganan MoU RI-Microsoft, atau para pengambil keputusan dan Microsoft begitu yakinnya bahwa Perwakilan Dagang AS akan melepaskan isu hak atas kekayaan intelektual dari masalah-masalah perdagangan bilateral dan multilateral. Jelas yang disebut sebagai masalah Intelectual Property Rights, terutama dalam kategori Priority Watch List, banyak sekali aspek kekayaan intelektual yang termasuk di dalamnya, bukan sekadar legalisasi perangkat lunak apalagi penggunaan sistem operasi di perkantoran pemerintah.
Dalam Priority Watch List berkaitan dengan Indonesia, USTR menyebutkan bahwa Pemerintah AS akan tetap melakukan monitor Out of Cycle Review untuk memerhatikan perkembangan isu hak atas kekayaan intelektual. Khususnya berkaitan dengan pembajakan eceran serta langkah mengejawantahkan regulasi cakram optik dalam memerangi produksi pembajakan oleh pabrik-pabrik cakram optik. Yang diinginkan dari Indonesia adalah memanfaatkan momentum upaya melawan pembajakan ini untuk memberdayakan undang-undang secara efektif, serta perlawanan pencegahan pembajakan dan pemalsuan, melalui penggerebekan pabrik-pabrik cakram optik yang melakukan pembajakan, dan lain-lain. Agar tercapai adanya langkah konkret Pemerintah Indonesia, terutama berkaitan dengan perangkat lunak, musik, dan film, agar mekanisme perdagangan bilateral dengan AS bisa berjalan secara normal. Terutama, berkaitan dengan cakram optik yang memang secara kasatmata bisa diperoleh di mana saja di kota- kota besar di Indonesia. Kembali kita bingung memahami logika MoU RI-Microsoft walaupun kesepahaman yang sekarang menjadi perdebatan di lingkungan komunitas teknologi komunikasi informasi memiliki sifat tidak mengikat dan tidak eksklusif. Apa tujuan yang ingin dicapai untuk memasuki tingkat kesepahaman ini.
Posisi yang ingin saya sampaikan disini cukup jelas. Pertama, piracy is crime. Kedua, pilihan penggunaan perangkat lunak, baik di lingkungan sekolah, perkantoran, maupun pribadi, harus bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, terjangkau, serta mudah digunakan. Karena teknologi komunikasi informasi akan melekat pada penggunanya, bukan pada kebijakan yang ingin dicapai pemerintah atau hanya melulu terkait dengan vendor tertentu. Coba lihat dan perhatikan apa yang sekarang terjadi di lapangan. Dengan mudah kita akan memperoleh berbagai perangkat lunak, musik dan film bajakan dengan harga yang sangat terjangkau. Upaya untuk memberantasnya pun tergantung kesiapan dan kemauan aparat kepolisian. Seperti yang sudah saya ceritakan diatas. Hari ini ada pembajakan, seluruh penjaja perangkat lunak bajakan mendadak tutup toko. Dua atau tiga hari kemudian, perdagangan pun berjalan kembali seolah-olah baru saja ada angin ribut yang tak memungkinkan untuk berjualan.
Yang terjadi malah ekses yang di luar dugaan kebanyakan orang. Oknum aparat pun memanfaatkan untuk melakukan penggerebekan ke hal-hal lain, seperti manual bahasa Indonesia yang memberikan alasan untuk menyita produk-produk yang tidak memilikinya. Ekses ini menyebabkan terjadinya tawar-menawar antara pemilik produk dan oknum aparat. Dan kita pun akan tetap berada pada lingkaran setan praktik korupsi dan kolusi, yang semuanya merupakan tanggung jawab kita semua. Bukan hanya pemerintah, melainkan seluruh unsur masyarakat, termasuk para pedagang yang tidak menganggap peraturan berkaitan dengan teknologi komunikasi informasi. Menagapa saya bisa merasakan ini, karena saya pernah berkecimpung didalamnya. Di sisi lain, kita perlu pahami perkembangan teknologi komunikasi informasi di Indonesia tidak akan pernah sama dengan negara-negara lain. Kemajuan di negara lain tidak pernah akan bisa menjadi ukuran bagi Indonesia karena perbedaan pandangan politik, budaya, sosial, dan lain sebagainya.
Negara-negara seperti China, Filipina, Malaysia, dan Vietnam mampu memperbaiki kondisi karena ada kemauan politik dari para elite negara itu untuk memperbaiki iklim perdagangan bilateral dan multilateralnya. Ada kesadaran utama di kalangan elite politik, baik di tingkat eksekutif maupun legislatif, untuk merancang mekanisme penerapan undang-undang secara efektif dan efisien. Dengan demikian, buat kita menjadi tidak masuk akal kalau penerapan percontohan perjanjian lisensi perangkat lunak pemerintah (seperti MoU RI-Microsoft) untuk diterapkan di lingkungan Istana dan departemen dalam lingkungan pemerintah, serta-merta memperbaiki iklim investasi teknologi komunikasi informasi, membantu Indonesia ke luar dari Priority Watch List, maupun mempromosikan pertumbuhan perangkat lunak lokal.
Apalagi, ketika seruan aksi yang disusun berkaitan dengan penetrasi komputer di Indonesia memasukkan komputer bekas (dalam bahasa bagusnya disebut sebagai refurbished PC), sebagai bagian keseluruhan kebijakan pengembangan teknologi komunikasi informasi di Indonesia. Sampai sekarang kita tidak yakin kalau komputer bekas akan menjadi terobosan utama dalam menghilangkan kesenjangan digital di Indonesia. Komputer bekas akan mengakibatkan dampak lingkungan yang serius dan akan menjadikan Indonesia sebagai “tempat sampah” negara-negara mau yang sudah meng- upgrade kemampuan komputernya, tetapi bingung dengan sampah elektroniknya.
Para pengambil keputusan di bidang teknologi komunikasi informasi, misalnya, tak pernah mau membuka mata adanya proyek One Laptop per Child yang saya baca dari detik.com pada saat itu mampu menghasilkan sebuah laptop seharga sekitar seratus dollar AS dan menjadi solusi menarik untuk mempersempit kesenjangan digital. Dan, kita tidak pernah akan habis-habisnya berpikir, kenapa kita gemar sekali melakukan perjanjian kesepahaman yang tidak memiliki rumusan jelas terbentuknya strategi kebijakan teknologi komunikasi informasi. Kekaguman kita kepada Bill Gates, pendiri Microsoft, harus ditempatkan pada porsi yang wajar dan saling menguntungkan. Namanya saja One Laptop per Child, ya memang laptop tersebut dikhususkan untuk anak anak, yang tadinya saya tertarik untuk membelinya tetapi sangat tidak memadai. Karena disitu disebutkan perangkat office pun tidak disediakan, semua program sudah dalam keadaan integrated, alias kita tinggal hanya bisa menggunakan program program yang sudah ada.
Kita dapat memaklumi ini sebagai pendatang baru, sama halnya seperti computer jaman dahulu yang katanya bukan alat berhitung. Computer yang pertama kali diciptakan ternyata hanyalah sebuah mesin tenun, saya belum melihat lebih lanjut. Ini baru berdasarkan apa yang dosen saya ceritakan. Bagaimanapun kita harus meyakinkan diri sendiri kalau Indonesia itu besar dalam jumlah penduduk dan memiliki letak geografi sangat strategis dalam percaturan politik dan perdagangan dunia. Dengan demikian, di sisi lain kita pun harus yakin kalau kebesaran kita tidak boleh hanya bergantung pada satu vendor teknologi komunikasi informasi. Mungkin suatu saat laptop sungguhan bisa benar benar murah. Sama seperti handphone, yang dulu dianggap sebagai barang mahal hanya kaum elit saja yang memilikinya, tetapi sekarang tukang becak sampai direkturpun memiliki handphone.
Belum lagi dengan masalah masalah yang ada pada keamanan jaringan system. Keberhasilan sistem keamanan informasi di jaringan komputer tidak hanya ditentukan kualitas teknologi yang digunakan, tapi juga kapasitas sumber daya manusia dan proses kebijakan yang dijalankan. Untuk membangun sistem keamanan informasi yang kuat juga harus dipertimbangkan apa saja yang akan diamankan dan mengapa informasi tersebut harus aman. Bahkan untuk mengelola sistem keamanan informasi perlu menerapkan sistem manajemen standar atau information security management system sesuai ISO untuk memenuhi tuntutan bisnis yang semakin mengglobal. Tidak peduli apakah perusahaan itu kecil, menengah, atau besar, sistem keamanan perlu diimplementasikan sejak awal. Informasi apapun mengenai pelanggan merupakan aset yang sangat besar bagi sebuah perusahaan sehingga harus dikelola dengan baik. Contohnya, sebuah firma kecil yang melayani transaksi online dengan karyawan satu sekalipun perlu memastikan bahwa jaringannya aman dan informasi mengenai pelanggan tidak berpindah ke pihak yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian pelanggan yang menyerahkan data-data pribadi seperti nomor kartu kredit, alamat, dan nomor kontak percaya dengan pelayanannya.
Sebelum implementasi dilakukan, perlu dilakukan penilaian apa saja yang perlu diamankan, apakah sistem email, transaksi perbankan online, data pelanggan, data perkembangan bisnis, atau informasi lainnya. Lalu, mengapa informasi tersebut diamankan, apakah sekedar arsip, sebagai bukti, atau memenuhi persyaratan yang ditetapkan regulator. langkah pertama yang akan dilakukan saat implementasi adalah evaluasi security dengan melakukan penilaian terhadap sistem keamanan yang dipakai. Selain dari sisi teknologi, aspek SDM dan proses juga perlu dinilai. Dicek servernya, perangkat yang aktif di jaringan, dan seluruh workstation, apakah terdapat lubang keamanan, kemudian ditambal satu persatu dan diuji kembali. Jika kelemahan-kelemahan yang mungkin rawan ditembus serangan malware (malicious software) seperti virus, spyware, worm, trojan, atau phising maupun para cracker terlalu besar, mungkin sistem perlu dirombak secara keseluruhan. Sebagai gambaran, untuk menangani tahap assessment sistem keamanan sebuah layanan e-commerce dengan seratus unit komputer desktop maupun laptop, pekerja memperkirakan butuh waktu 10 hari untuk menguji dan 10 hari untuk menambal lubang keamanannya. Itu pun dengan asumsi tidak perlu perombakan sistem secara keseluruhan. Perusahaan juga harus memperhitungkan manajemen risiko proses dengan melakukan mitigasi dan kontrol dengan baik agar tidak terjadi kesalahan. Mitigasi tidak perlu berlebihan dan harus dipastikan efektif sehingga ongkos data control lebih murah daripada risikonya.
Penanganan terhadap organisasi yang ramping dan besar tentu saja berbeda. Pada perusahaan kecil umumnya penentu target kualitas sistem keamanan adalah SDM dan teknologi sedangkan pada organisasi yang besar umumnya lebih besar porsinya untuk mengelola proses tanpa mengabaikan faktor kapasitas SDM dan teknologi. Meski demikian, mengelola SDM diakui sebagai hal yang paling sulit dilakukan sebab sangat dinamik, selalu berubah apalagi di perusahaan besar, dan faktor-faktor kemanusiaan yang sulit untuk dihitung takarannya. Sedangkan teknologi, sekali dipasang dengan benar, selamanya akan bertahan hanya saja selalu rentan dengan serangan-serangan baru. Mau tidak mau sistem keamanan akan terus berubah menyesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat ancaman. Implikasinya, perilaku SDM terhadap sistem keamanan juga harus terus diperbarui. Aspek teknologi, SDM, dan proses memang harus saling mendukung agar implementasi sistem keamanan berkesinambungan. Bahkan seluruh karyawan di Microsoft pun harus menjalani training mengenai security agar mereka mengerti prosedur yang harus dijalankan.
Salah satu strategi meningkatkan kinerja sistem keamanan yang umumnya diterapkan para praktisi keamanan jaringan adalah menghindari solusi monokultur atau dari satu vendor. Misalnya, untuk server digunakan sistem operasi FreeBSD, tapi pada komputer klien yang terhubung di jaringan menggunakan Windows XP atau router utama Cisco namun switch-nya Bay Networks. Ini dilakukan untuk menurunkan kemungkinan serangan baru melumpuhkan seluruh sistem. Kenyataan inilah yang mungkin disadari Microsoft sehingga mengeluarkan solusi keamanan yang dapat dipakai bersama-sama dengan solusi pihak ketiga. Solusi yang diberi label Microsoft Forefront tersebut meliputi Microsoft Forefront Client Security, Microsoft Forefront Security for Exchange Server, Microsoft Forefront Security for SharePoint, Microsoft Forefront Security for Office, dan Microsoft Internet Security and Acceleration Server dua ribu enam.
Meskipun demikian, tidak ada yang dapat menjamin bahwa sistem keamanan jaringan seratus persen aman. Ancaman-ancaman baru di masa mendatang mungkin sulit diprediksi saat ini sehingga secara tidak langsung konsumen teknologi informasi dipaksa untuk selalu memperbaiki sistemnya agar selalu sigap menghadapi kemungkinan serangan. Misalnya, pengguna harus mempertimbangkan penggantian sistem operasi Windows noceng karena didisain untuk mencegah bentuk ancaman yang muncul pada tahun sembilan tujuh atau Windows NT untuk tahun sembilan tiga. Meskipun Microsoft selalu mengeluarkan patch secara kontinyu, pada saatnya hal tersebut memiliki batasan. Contohnya, setiap bulan windows yang asli mengeluarkan update update terbaru demi kelangsungan hidupnya, apabila tidak di update maka kemungkinan terkena serangan virus atau hack dari seseorang cukup besar. Oleh sebab itu system keamanannya selalu terus diperbaiki, begitu pula dengan pemilihan antivirus yang tepat. Tetapi tetap saja yang namnya virus, bila kita membuka internet itu ada dimana mana.
Dunia tentang IT memang sangat luas apabila dilihat secara keseluruhan, IT itu bisa tentang bermacam macam, mulai dari internet, jaringan, keamanan, pekerjaan dan sebagainya. Seharusnya lapangan pekerjaannya cukup luas untuk seorang lulusan teknik informatika. Dari hal yang mudah sampai dengan hal yang sulit, namun kita sebagai lulusan IT dituntut untuk tidak melakukan hal yang terlalu mudah, tetapi kenyataannya tidak ada yang dapat dijadikan tolak ukur untuk hal tersebut. Taruhlah seperti saya, apabila saya lulus dengan nilai yang biasa biasa saja, saya mungkin atau sudah pasti akan kalah bersaing dengan lulusan yang dengan nilai gemilang atau bahkan dengan lulusan luar negri. Tetapi apakah itu menjamin kalau saya akan kalah sukses ketimbang meraka.
Ya saya akan kalah sukses ketimbang meraka bila saya tidak mau belajar dari kesalahan yang sudah sudah. Saya akui saya menyesal sudah sangat menyia nyiakan waktu saya sebagai mahasiswa Untar. Saya selalu masih menggunakan system belajar kebut semalam sebelum ujian, saya juga heran tidak pernah kapok kapoknya alhasil seperti inilah saya sekarang. Bisa diambil contoh, mengapa saya belum lulus lulus juga, karena untuk lulus minimal di tingkat tingkat akhir saya sudah mengambil kerja praktek pada semester lalu, tetapi mata kuliah prasyarat yang menghalangi saya untuk melakukan kerja praktek, yaitu riset teknologi informasi. Lalu mengapa saya baru ambil mata kuliah tersebut sekarang. Karena riset teknologi informasi juga memerlukan mata kuliah prasyarat, yaitu statistic dua yang sebelumnya juga harus sudah mengambil statistic satu terlebih dahulu. Saya sebagai mahasiswa sangat kelabakan entah mengapa saya bisa sampai seperti itu. Sekarang posisi saya sebagai telur diujung tanduk, atau hidup segan mati tak mau. Saya pasti bisa, seperti halnya sekarang ini sudah mencapai hampir lima ribu lima ratus kata, bearti tinggal beberapa paragraph lagi.
Seharusnya saya ada kelas pagi jam sembilan, tetapi saya harus rela mengorbankannya demi tugas yang satu ini. Apalagi saya sebagai ketua kelompok harus mengurus mendapatkan semuanya sebelum jam dua belas siang nanti. Kemarin saya mengerjakan tugas ini hingga pukul empat pagi, kemudian saya tertidur hingga pukul tujuh yang rencananya jam enam mau bangun, ternyata alarm pun tidak berbunyi sehingga saya mengharuskan mau tidak mau untuk membolos. Hidup memang penuh dengan pilihan, bisa jadi pilihan yang membawa kesuatu kebangkrutan ataupun kesuksesan. Alhasil saya berhasil juga menyelesaikan blog ini dengan tertatih tatih. Terima kasih saya ucapkan kepada seluruh pembaca, yang sedikit banyak sudah mendegarkan keluh kesah saya dalam menyampaikan mengapa saya memilih IT di Untar. Semoga saya cepat cepat lulus dan memetik hasil dari semuanya ini. Mohon maaf apabila ada kata kata saya yang kurang berkenan. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: